Rabu, 26 Juni 2013

BOCAH KUMAL DI SUBUH GELAP_Sebuah Kenangan



BOCAH KUMAL DI SUBUH GELAP
Oleh : Radikal Yuda Utama
2 Ramadhan 1432....
Tak kunjung berubah. Di bawah aura nafas bersahut-sahutan sekitar aku, menghayati rasa kantuk dalam shalatnya. Sebuah kewajiban penuh perjuangan, ketimbang serangkaian lain. Shalat subuh! Mungkin itu nama terbaiknya.
Subuh itu, dingin memang! Kondisi alam sehabis hujan, terasa di subuh 2 Agustus ’11 tepat 2 Ramadhan 1432 H. Masjid Darul Ihsan, tempat perjumpaan sahabat kecil, yang dulu pernah bersama. Dipisah oleh zaman, merongrong getirnya kehidupan tuk capai mimpi dan tujuan dalam diri masing-masing. Perjalanan panjang, putaran roda kehidupan, seperti sebuah meja perjudian, acak pengadukan, kembali memunculkan muka sama, bernomor 2-8-11.
*
Tak ku sangka! usai shalat subuh itu, Selasa. Keheninganku pecah, sapaan ringan di bahu memaksaku menjabat tangan seseorang di belakang safku. Biasa, ku sambut tangan itu, dengan hangat berikan wajahku untuknya. Lalu kembali ku berpaling melanjutkan doa penuh harap terhadap tuhan yang kuasa. Lama! Kembali terlintas seseorang tadi, ku hadapkan wajah  serta pikiran, kini sepenuhnya. Membuka lebar mataku, sedikit menahan kantuk. Pelan-pelan, jiwaku tersentak “Paaaras iniiiii....!!!”
Suara khasnya melabrak keraguanku, diawali senyuman tebaiknya...
“Hey, IKAL! Kabarmu sehat? Seabad agaknya kita tak jumpa...”
Wajah ini, ku usap dengan tangan. Belum percaya, bergerak mundur posisiku kebelakang.
Keningku mengkerut, tersenyum tipis, sembari kepala berputar perhatikan sekeliling masjid itu, terpaku seorang pemuda di sudut masjid,  tengah kyusu’, hanyut dalam keterseduannya.
“PAAAK”
Ku pukul hangat kaki berlapis jeans itu, berwarna kusam dan agak kotor. Membaca parasnya berambut acakan, penampilan kumuh bersanding baju kaos dan jeans jelek. Kulit sawo matangnya kering seperi usai berjemur di pantai kuta. Terus ku amati, dalam cerita panjangnya yang terabaikan. Pikiranku hanya terfokus, coba menebak kondisi subuh itu. Anggukan terus ku berikan, namun palsu. Hatiku cemas! Tiada lagi yang sama. Jawabannya ku dapatkan, pura-pura ku bertanya,
“Kok bisa Bal, kau sampai di sini? Perlu apa?”
“Jadi, kau belum tau Kal?!”
Senyap. Sedetik kemudian,
“KERJAA Kal!. KERJAAA..!.”  tegasnya dihadapanku. Kemudian ia melemah,
“Aku malu denganmu Kal”
 “Sebenarnya aku di sini sudah dua hari. Malam pertama, kami berdebat. Si Wahyu, teguh pendirian, katakan kalau ini sekolahmu. Tapi, setahu aku kau pergi dari kampung, di pesantren, bukan?!. sampai-sampai Wahyu, aku acakin wajahnya sama Roby. Hahaha..” Ia tertawa di hadapanku.
Aku tak ingat, berapa ribu jam yang lalu. Terakhir kali ku dengar gelak tawa itu. Tak lama!.  Lalu, tatapannya dalam ke arahku. Berbinar. Di matanya, tergambar keteguhan dan ketegaran seorang bocah kecil. Tatapan tertunduk. Tangan kanannya memegang bahu kiriku. Pelan ku dengar..
“Kau beruntung KAL....”
Aku tak banyak berkata, perasaanku kini beda. Sedih, cemas, bercampur sedikit kegembiraan bertemu sahabat yang telah lama ku tinggalkan. Perjalanan hidup, memberikanku jalan untuk mengenyam pendidikan di salah satu sekolah terbaik di Riau. Tak ku sangka, Tuhan pertemukan aku, Iqbal, Roby, Wahyu serta dua orang lainnya meski di sisi yang berlawanan.
Perbincangan kami, tak kunjung usai. Iqbal mengajakku ke tempat kerjanya, di sudut komplek sekolah yang cukup luas. Tanpa sandal, ku berjalan dengan hati-hati bersama bocah kumal di subuh gelap tanpa penerangan lampu di jalan itu. Kain sarung yang ku kenakan diamankan oleh tangan kiriku, hingga batas mata kaki. Masuk ke sebuah bangunan kecil, ruang praktek –pada awal perancangan sekolah bangunan itu merupakan puskesmas. Namun, kini tidak difungsikan lagi-. 
“Kau boleh lihat Kal. Disini kami tidur. Sempit. Bau. Sesak oleh lima orang. Tidur tak ubahnya macam kambing” kata Iqbal sembari menunjuk mereka yang terkulai tidur satu-persatu.
Setelah itu, aku pun berjalan mengelilingi puskesmas itu. Tampak tumpukan sack semen, besi-besi, dan perkakas-perkakas bangunan lainnya.
Dengan nada sedikit pelan, ia kembali berkata,
“Inilah hidup kami Kal. Kerja jauh dari rumah. Tak jelas dimana tidur dan makan apa. Tak berdaya..”
Tahan! Kerja keras ku tahan perasaanku agar tidak jatuh. Semakin terbayang kerasnya kehidupan ini, melihat ratusan besi tersusun rapi, yang dipotong secara manual oleh tangan-tangan kecil mereka. Sepantasnya, genggaman itu untuk sebuah pena di atas kertas, bangku pendidikan!.
Mandi, buang air kecil, buang air besar, cuci, ataupun sebagainya mereka lakukan di semak sekitar tempat itu. Mandi melalui cucuran air tangki, yang tidak terpakai lagi di puskesmas itu. Ironis aku melihatnya.
“Lama tak jumpa Amak Abak, mereka sehat Bal?”
“Alhamdulillah, Amak Abak sehat KAL” jawab Iqbal lirih.
Iqbal, sahabatku. Hidupnya memang keras. Paksaan nasib. Tebersit kisah lalu, dari bekas luka di kulit betisnya. Ku ingat, kulit betisnya itu koyak. Tersangkut roda bendi. Ia tak menangis. Hanya diam. Tanpa suara. Sedangkan ibunya terbirit-birit minta tolong untuk membawanya ke puskesmas. Namun, kini. Sempat ku lihat genangan air suci itu di kantung matanya. Saat ku tanya, kabar emak dan abaknya. Aku terharu.
Pikirku terbang jauh ke memoriam dulu. Ku yakin, ia pasti sakit. Hidup memaksa sahabat kecilku, melakukan semua ini. Bukan karena bodoh. Bocah yang terakhir kali ku dapati di kelas 5 SD, sebagai juara 3 di sekolahnya. Kini, harus menguras tenaga melaui tubuhnya yang kurus, sungguh tak patut ia lakukan. Ku tak berdaya, aku pun kecil. Di sini pun ku tak berdaya, kata “lemah” yang harus ku bakar hangus dari jiwaku ini. Sama! Tujuan kami tiada bedanya. Ia untuk hidup, aku pun demikian!. Demi masa depan, ibu, ayah, dan adikku tercinta. Syukur! Dalam ku sampaikan, “Tuhan hantarkan kami dengan keselamatan..”
Sahabat Kecilku bekerja sebagai kuli bangunan. Kerja borongan menyelesaikan pembangunan sebuah aula di samping puskesmas itu. Gores lecet ku lihat tersebar di tangan mereka. Pedih, sakit, dan lelah terinjak semangat sang pejuang hidup.
*
Tuhan, kehidupan ini milikmu. Segala rencana ditanganmu, melahirkan beribu harapan tersangkut dalam untaian doa yang dalam. Satu keinginan, berikan limpahan rahmat dan kasih sayang. Serta kekuatan terlahir dari tekad niat yang bulat memutar roda kehidupan. Merintih perih, digelap malam. Tuntut keadilan, ampuni kami Tuhan...
Perjabatan hangat, melepas langkahku menuju awal ketercapaian mimpi. Sekolah!
*
Gelak tawa, berganti senyum tipis di pagi itu. Pikiranku masih tertinggal di puskesmas, getirnya sebuh gelap tadi, menghilangkan keinginan bermainku. Aku hanya diam, duduk sendiri di bangku sudut depan. Tekadku terbakar, ingin menang, berorientasi masa depan, bahwa dulu kita sama. “Masa kecil indah, harus berlanjut hingga kini. Tiada yang boleh tertindas...
Pelajaran hari itu, ku gigit kuat melalui gerahamku, meski di antaranya banyak tak ku pahami. Mencoba tenang, di tengah-tengah teman-teman hebat di sekelilingku, yang harus ku lewati sebagai ujian keras. Langkah cepat dan tegasku, tiba-tiba dihentikan oleh seorang gadis,
“Bagaimana acara buka bersama angkatan kita Kal? Sudah di konfirmasikan ?”
“Sudah. Sudah. Sudah...!!” Jawabku cepat, bergegas pergi tinggalkannya di belakang.
Sekarang tepat pukul 10.15 pagi, langkahku tertuju ke musholla, di ujung koridor. Tunaikan ibadah sunnah, seperti teman-teman lainnya dalam musholla itu. Usai itu, ku tadahkan tangan harap pemberian tuhan. Di sisi kananku, tak sengaja kembali ingatan itu kembali. Kejauhan terlihat beberapa orang mencangkuli tanah di sisi puskesmas itu. Itu pasti mereka, sahabat kecilku...
Rabu, 17 Ramadhan 1432 H. Buka Bersama angkatan pun kami langsungkan. Meski siangnya penuh peluh mempersiapkan acara itu. Putri mempersiapkan makanan di DPN salah seorang guru, mempersiapkan makanan melalui STJ (sumbangan tiap jiwa) yang kami kumpulkan. Putra, tentunya menata ruang pertemuan (aula sekolah ) yang kami pinjam untuk acara itu.
Sekitar 5 menit menjelang bedug.
“Mana bapak ibuk guru, bukankah telah diundang?”
Kesalahan koordinasi, bubar pun kami langsungkan dengan penuh bahagia tanpa kehadiran undangan, yang sejenak melupakan “puskesmas” dari otakku. Usai shalat maghrib, acara pun kami lanjutkan. Suara khasnya mengejutkan,
“Assalamu’alaikuuum..” ternyata dia bapak guru kami. Bergabung dalam kesederhanaan buka bersama itu. Bergegas sedapat mungkin kami hidangkan apa yang ada. Sayang, aku lupa! Bapak terkena penyumbatan kolesterol. Jadi, tiada satupun yang dapat ia santap, kecuali secuil sayur di rantang biru, Ria Catering itu. kepala tertunduk, malu. Ku sampaikan maaf yang sedalam-dalamnya kepada bapak, yang ternyata telah hadir pukul 16.30 sore itu disaat kami sibuk berada di DPN. Sekali lagi, maaf bapak...
Semua makanan habis. Niatku menghantarkan sedikit makanan untuk mereka. Ternyata benar-benar terkabulkan dengan 10 potong semangka + 5 gorengan, di bingkisan ini dan kakiku siap berlari secepat Rossi tembus gelapnya jalan ke puskesmas. Alhamdulillah!.
*
19 ramadhan.
Gema ramadhan. Rohis sekolah melaksanakan lomba antar siswa-siswi, mulai tingkat  pertama hingga tingkat akhir. Beragam macam perlombaan. Tapi, dua dalam genggamanku. Ini uji daya tahan pertamaku, sebelum pulang, dua malam kemudian. Tahfiz dan azdan, ku targetkan juara. Untuk itu, jadilah aku bahan tontonan seluruh siswa-siswi siang itu. Agaknya karena pekik parau suaraku melantunkan adzan. Aku tak peduli. Check sound. Check sound!
*
            Berita sebelumnya, terungkit. Sabtu siang, 20 ramadhan. Terik panas. Buat kerutan taraf siaga lima di dahi. Haus, lapar, dan capek saat kondisi puasa. Sistem kerja Rodi merebak kembali di kalangan para siswa. Satu orang berdiri dengan toa di depan asrama.
“SEMUA SISWA TURUN..!!!.”
Sekejap. Bagai semut. Dengan beragam komentar, semua kerja mengkondisikan mensa putra-putri guna acara sore nanti. Tak ubah pasukan roro jongrang, dalam kesetengah ikhlasan kerja rodi itu. Adzan berkumandang. Semua siap.
16.30 sore. Semua siswa-siswi duduk rapi di tempat. Sederhana. Bersila di lantai mensa. Duduk ihklas, bentuk suatu lingkaran kebersamaan memegang gelas stainless menanti pembagian sirup marjan. Termasuk aku!. Kedatangan para pembesar-pembesar Riau, tak kunjung munculkan batang hidung pak Saleh Djasit (mantan gubernur Riau). Jenuh. Leherku mulai penat. Biasa, ku putar ia 180 derajat. Sekali. Dua kali. Belum! Satu setengah, ku lihat gadis berjilbab putih. Berbusana melayu hijau. Memang! Semua memakai seragam itu. Bedanya, ia duduk di pintu masuk ke dua mensa. Aih, cantiknya!. Aku terpana.
Gelombang bunyi itu?. Bukan sesuatu yang asing lagi. Kompang. Iringi langkah pak Saleh Djasit dengan batang hidungnya yang mancung. Aku pun terjaga. Alright, acaranya dimulai. Berbagai performance SLSJ (sistem latihan satu jam) menghebohkan sabtu sore itu. Teman-temanku. Mereka pelakunya!. Atau pekikan penonton itu, sebuah dendam. Pelampiasan setelah seharian belajar, staycool menjamin ketenangan kelas. Tapi, agaknya itu keririan ku saja. Aku ingin jadi pelaku itu!. karena selalu ku dengar cerita-cerita dulu. Bukan sekedar menjadi mereka yang menikmati (penonton). Tapi, jauh lebih baik menjadi pelaku yang melahirkan kenikmatan itu. Bukankah itu impianku?
Salah satu moment yang ku suka dari acara itu. Tidak lain, saat Mr. Saleh Djasit berpidato. Berperawakan lembut. Tetap tegas. Menghoyak pikiranku. Lagi, ku bayangkan diriku berdiri gagah di podium sakral itu. Kesan yang  kulihat darinya, sederhana!. Seorang pemimpin besar, yang ku tahu pernah makan di emperan pinggir Jalan Ahmad Yani dengan kaos oblong putih kaki beralaskan sandal jepang. Ku rasa, punya tukang parkir depan kantornya. Bijak! Sore itu, semua mata calon pemimpin masa depan tertuju pada serbuan kalimat pemimpin itu. Mencuri setitik gairahnya. Mungkin itu maksud kami.
Beberapa saat kemudian. Bedug berbunyi. Diiringi adzan si gharim masjid. Merdu memang suaranya. Pasukan gelas stainless bergerak maju. 295 siswa menyerbu di empat penjuru. Untuk satu tujuan, segelas sirup marjan dan semangkuk kolak. Tak ayal, antrian panjang terjadi. Akibat dari kesalahan strategi. Berebut tak ubahnya macam anak ayam. “Maunya sebelum bedug. Amunisi ini sudah siaga di tangan kita...”. Aduh, aku tak sabar. Ku potong antrian sekitar 20 orang di depanku. Aku tak peduli. Ini sunnah Rasulullah, menyegerakan buka puasa!.
Memang, waktu menjelang buka puasa. Saat terindah bagi setiap kaum muslimin. Katanya!. Tapi, sudahlah. Kini ku sedang berada dalam jamaah shalat maghrib. Di markas  besar, Masjid Darul Ihsan. Menghadap Tuhan. Astaghfirullah. Tiga kali ku ulang. Aku tak kyusu’. Akhirnya sampai ke salam. Tanda berakhirnya shalat. Tapi, tidak untukku. Satu rakaat lagi. Karena aku makmum masbuk. Serta ratusan pasukan stainless lagi di belakangku. Kembali keluar komentar, “Ingat. Semua ini karena kesalahan strategi. Strategi benar. Kita menang...”. Sial. Sampai salam. 80 % aku tak kyusu’. Astagfirullah. Ampuni hambamu ya tuhan...
Kembali dari masjid. Ku lihat empat pos itu. Penuh. Lama aku berdiri. Kini, hampir giliranku. Kiri kanan ku pandang. Si gadis cantik itu. Duduk manis. Masih di tempat tadi. Jauh ku lihat dari mensa. Di sudut barrack, lima orang alumni, sepertinya. Tanpa ada satupun yang berusaha menghampiri. Spontan, ku pasang sendal jepang kembali. Senyum. Karena pak Saleh Djasit dulu juga memakainya. Kesamaan merk. Cukup membuatku bangga. Di hadapan meraka. Kikuk. “Aih, kok macam ni?”. Aku pun mengajak mereka. Kakak-kakak alumni untuk IMB (ikut makan bersama). Jempolku bergerak-gerak ke arah mensa. Sembari terus mengajak mereka.
Lalu, salah seorang dari mereka garang menanyaiku. Siapa yang menyuruh?. Dengan pelan tetap sopan ku katakan. Tidak ada yang menyuruh. Dia tersenyum. Mengangguk-angguk. Lalu terdengar suara pelan. “Bagus Kal..”. namun, sayang. Kalau aku tak salah, agaknya itu dari mulutku.
Prasmanan. Aku lanjutkan antrian. Tiga orang di depanku. Ku lihat, sisa 3 ayam goreng. Melemas. Tuhan, aku perlu mukjizat-Mu. Nasi. Sayur. Tempe goreng. Ayam. Kerupuk. Semangka. Aih, aku tersenyum. Kalau tidak salah. Satu ayam terangkut ke  piringku. Aku bersyukur. Ku lihat, dalam mensa itu, penuh. Niatku duduk dekat pintu masuk, gagal terlaksana. Sayang. Sekali setahun, buka bersama. Di pastikan aku harus menunggu setahun lagi. Makan ayam mukjizat, depan pintu masuk. Dekat dia, si cantik itu!. Telinga ku berdentang keras. Terpaksa tangan kiri menutup telingaku. Aku pun bingung. Cara menutup keduanya. Sedih, ini masalah posisi. Duduk di bawah speaker. Dengan merana!.
*
Malam itu, aku berencana. Mengumpulkan sisa-sisa makanan untuk ku masukkan ke asoi hitam ini. Sebentar ku ambil. Ku turut kakak Ria Catering itu di dapur. Namun, kurang mendapat perhatian. Aku maklum. Ia sibuk. Aku berpikir. Kini, ku ajak seorang teman. Guna melicinkan rencanaku. Ia Hamka. Sederhana, cerdas, rajin, penuh pengorbanan. Itu kata dariku untuknya. Aku salut. Berkeliling mencari asoi, untuk tempat makanan itu. Tapi, tak kunjung ku dapati. Hamka pun demikian. Lagi pula, selama tadi tak ku jumpai semacam makanan. Kecuali nasi dan semur ayam. Di pos kanan mensa. Perjalanan ringan kami pun, terhenti di pintu masuk. Kami saling menatap. Lama. Kemudian tersenyum.
“Tunggu apa lagi...?”  
Bergegas. Cekatan tanganku merogoh 10 potong ayam dari pos itu. beralih tempat ke piring ini. Hamka sigap, siap dengan gunung nasi di piring. Aku tahu. Banyak mata melihat. Dengan berbagai presepsi. Aku tak peduli. Ku berlari, untuk kedua kalinya tembus gelap malam jalan ke puskesmas. Dan untuk kesekian kalinya, aku mencuri makanan.
Kal. Kaal... stop.stop. kito jalan ajoo. Tak baik belari macem ni. Tumpah. Sio-sio usaho kito...”  ucap Hamka saat memasuki pekarangan masjid. Kental dengan logat melayunya.
Langkah kami meraba-raba. Aku dan Hamka tanpa sandal. Dari jalan itu, remang kuning cahaya lampu dari puskesmas jadi sasaranku.
“Iqbal! Roby! Wahyu!...” Teriakku menggema di gelapnya saat itu. Dari belakang, muncul seorang makhluk hitam. Tanpa baju. Menyapa...
“Ada apa bang, Ikal?” Aku terkejut. Ternyata Roby.
Semuanya telanjang dada. Terkulai letih, pastinya. Sehabis kerja keras seharian. Memang mereka tak puasa. Kecuali Iqbal, yang ku tanya kemarin. Meski sebagian, banyak bolongnya. Kumal. Mereka keluar dari sarangnya. Senang. Terlihat gigi putih mereka yang agak menguning, pelan berkata. Sahabat terima kasih...
*
Malam itu, kembali dingin. Meski kantuk. Mata berontak pertahankan haknya. Ku tulis sebuah rangkaian tentang mereka. Dalam hati, pelan ku baca.  
Mungkin belum saat ini, sinar bulan kan bersinar cerah
Berpanjat kejar ribuan harapan
Bocah lemah hilang, terbang tak bersayap

Senantiasa percaya pada sebuah janji, bahwa balasan akan terjadi
Hingga, tatkala gelegar terompet kakala memanggil
Sedih, perih, dikuatkan tiang iman menopang
Kuat kokoh, berharap hingga mati

Terlihat di pucuk tiang, tuan tengah diuji, serta hati
Bak seorang napi pembunuh ganas,
pedihan sayat pisau melentingkan kekuatan
Hati ini!
Kan beri pertolongan untukmu,
Sebuah pertemanan sejati, untuk masa depan
Telah sama-sama berjanji
Balik tak balik, mimpi jua akan didapati
Percayalah teman
Janji tak dustai, Jujur tak surut penantian

*Teriring rasa rindu untuk saudara sesusu, sahabat kecilku, Iqbal.

Juara Harapan LMCR-2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar