BOCAH KUMAL DI SUBUH GELAP
Oleh
: Radikal Yuda Utama
2 Ramadhan
1432....
Tak kunjung berubah. Di bawah aura nafas
bersahut-sahutan sekitar aku, menghayati rasa kantuk dalam shalatnya. Sebuah
kewajiban penuh perjuangan, ketimbang serangkaian lain. Shalat subuh! Mungkin itu
nama terbaiknya.
Subuh itu, dingin memang! Kondisi alam sehabis
hujan, terasa di subuh 2 Agustus ’11 tepat 2 Ramadhan 1432 H. Masjid Darul
Ihsan, tempat perjumpaan sahabat kecil, yang dulu pernah bersama. Dipisah oleh
zaman, merongrong getirnya kehidupan tuk capai mimpi dan tujuan dalam diri
masing-masing. Perjalanan panjang, putaran roda kehidupan, seperti sebuah meja
perjudian, acak pengadukan, kembali memunculkan muka sama, bernomor 2-8-11.
*
Tak ku sangka! usai shalat subuh itu, Selasa.
Keheninganku pecah, sapaan ringan di bahu memaksaku menjabat tangan seseorang
di belakang safku. Biasa, ku sambut tangan itu, dengan hangat berikan wajahku untuknya.
Lalu kembali ku berpaling melanjutkan doa penuh harap terhadap tuhan yang
kuasa. Lama! Kembali terlintas seseorang tadi, ku hadapkan wajah serta pikiran, kini sepenuhnya. Membuka lebar
mataku, sedikit menahan kantuk. Pelan-pelan, jiwaku tersentak “Paaaras
iniiiii....!!!”
Suara khasnya melabrak keraguanku, diawali senyuman
tebaiknya...
“Hey, IKAL! Kabarmu sehat? Seabad agaknya kita tak
jumpa...”
Wajah ini, ku usap dengan tangan. Belum percaya,
bergerak mundur posisiku kebelakang.
Keningku mengkerut, tersenyum tipis, sembari kepala
berputar perhatikan sekeliling masjid itu, terpaku seorang pemuda di sudut
masjid, tengah kyusu’, hanyut dalam keterseduannya.
“PAAAK”
Ku pukul hangat kaki berlapis jeans itu, berwarna
kusam dan agak kotor. Membaca parasnya berambut acakan, penampilan kumuh bersanding
baju kaos dan jeans jelek. Kulit sawo matangnya kering seperi usai berjemur di
pantai kuta. Terus ku amati, dalam cerita panjangnya yang terabaikan. Pikiranku
hanya terfokus, coba menebak kondisi subuh itu. Anggukan terus ku berikan,
namun palsu. Hatiku cemas! Tiada lagi yang sama. Jawabannya ku dapatkan,
pura-pura ku bertanya,
“Kok bisa Bal, kau sampai di sini? Perlu apa?”
“Jadi, kau belum tau Kal?!”
Senyap. Sedetik kemudian,
“KERJAA Kal!. KERJAAA..!.” tegasnya dihadapanku. Kemudian
ia melemah,
“Aku malu denganmu Kal”
“Sebenarnya
aku di sini sudah dua hari. Malam pertama, kami berdebat. Si Wahyu, teguh
pendirian, katakan kalau ini sekolahmu. Tapi, setahu aku kau pergi dari
kampung, di pesantren, bukan?!. sampai-sampai Wahyu, aku acakin wajahnya sama Roby.
Hahaha..” Ia tertawa di hadapanku.
Aku tak ingat, berapa ribu jam yang lalu. Terakhir
kali ku dengar gelak tawa itu. Tak lama!.
Lalu, tatapannya dalam ke arahku. Berbinar. Di matanya, tergambar
keteguhan dan ketegaran seorang bocah kecil. Tatapan tertunduk. Tangan kanannya
memegang bahu kiriku. Pelan ku dengar..
“Kau beruntung KAL....”
Aku tak banyak berkata, perasaanku kini beda. Sedih,
cemas, bercampur sedikit kegembiraan bertemu sahabat yang telah lama ku
tinggalkan. Perjalanan hidup, memberikanku jalan untuk mengenyam pendidikan di
salah satu sekolah terbaik di Riau. Tak ku sangka, Tuhan pertemukan aku, Iqbal,
Roby, Wahyu serta dua orang lainnya meski di sisi yang berlawanan.
Perbincangan kami, tak kunjung usai. Iqbal
mengajakku ke tempat kerjanya, di sudut komplek sekolah yang cukup luas. Tanpa
sandal, ku berjalan dengan hati-hati bersama bocah kumal di subuh gelap tanpa
penerangan lampu di jalan itu. Kain sarung yang ku kenakan diamankan oleh
tangan kiriku, hingga batas mata kaki. Masuk ke sebuah bangunan kecil, ruang
praktek –pada awal perancangan sekolah bangunan itu merupakan puskesmas. Namun,
kini tidak difungsikan lagi-.
“Kau boleh lihat Kal. Disini kami tidur. Sempit.
Bau. Sesak oleh lima orang. Tidur tak ubahnya macam kambing” kata Iqbal sembari
menunjuk mereka yang terkulai tidur satu-persatu.
Setelah itu, aku pun berjalan mengelilingi puskesmas
itu. Tampak tumpukan sack semen, besi-besi, dan perkakas-perkakas bangunan
lainnya.
Dengan nada sedikit pelan, ia kembali berkata,
“Inilah hidup kami Kal. Kerja jauh dari rumah. Tak
jelas dimana tidur dan makan apa. Tak berdaya..”
Tahan! Kerja keras ku tahan perasaanku agar tidak
jatuh. Semakin terbayang kerasnya kehidupan ini, melihat ratusan besi tersusun
rapi, yang dipotong secara manual oleh tangan-tangan kecil mereka. Sepantasnya,
genggaman itu untuk sebuah pena di atas kertas, bangku pendidikan!.
Mandi, buang air kecil, buang air besar, cuci,
ataupun sebagainya mereka lakukan di semak sekitar tempat itu. Mandi melalui
cucuran air tangki, yang tidak terpakai lagi di puskesmas itu. Ironis aku
melihatnya.
“Lama tak jumpa Amak Abak, mereka sehat Bal?”
“Alhamdulillah, Amak Abak sehat KAL” jawab Iqbal lirih.
Iqbal, sahabatku. Hidupnya memang keras. Paksaan
nasib. Tebersit kisah lalu, dari bekas luka di kulit betisnya. Ku ingat, kulit
betisnya itu koyak. Tersangkut roda bendi.
Ia tak menangis. Hanya diam. Tanpa suara. Sedangkan ibunya terbirit-birit minta
tolong untuk membawanya ke puskesmas. Namun, kini. Sempat ku lihat genangan air
suci itu di kantung matanya. Saat ku tanya, kabar emak dan abaknya. Aku
terharu.
Pikirku terbang jauh ke memoriam dulu. Ku yakin, ia
pasti sakit. Hidup memaksa sahabat kecilku, melakukan semua ini. Bukan karena bodoh.
Bocah yang terakhir kali ku dapati di kelas 5 SD, sebagai juara 3 di
sekolahnya. Kini, harus menguras tenaga melaui tubuhnya yang kurus, sungguh tak
patut ia lakukan. Ku tak berdaya, aku pun kecil. Di sini pun ku tak berdaya,
kata “lemah” yang harus ku bakar hangus dari jiwaku ini. Sama! Tujuan kami
tiada bedanya. Ia untuk hidup, aku pun demikian!. Demi masa depan, ibu, ayah,
dan adikku tercinta. Syukur! Dalam ku sampaikan, “Tuhan hantarkan kami dengan keselamatan..”
Sahabat Kecilku bekerja sebagai kuli bangunan. Kerja
borongan menyelesaikan pembangunan sebuah aula di samping puskesmas itu. Gores
lecet ku lihat tersebar di tangan mereka. Pedih, sakit, dan lelah terinjak
semangat sang pejuang hidup.
*
Tuhan, kehidupan
ini milikmu. Segala rencana ditanganmu, melahirkan beribu harapan tersangkut
dalam untaian doa yang dalam. Satu keinginan, berikan limpahan rahmat dan kasih
sayang. Serta kekuatan terlahir dari tekad niat yang bulat memutar roda
kehidupan. Merintih perih, digelap malam. Tuntut keadilan, ampuni kami Tuhan...
Perjabatan hangat, melepas langkahku menuju awal ketercapaian
mimpi. Sekolah!
*
Gelak tawa, berganti senyum tipis di pagi itu. Pikiranku
masih tertinggal di puskesmas, getirnya sebuh gelap tadi, menghilangkan
keinginan bermainku. Aku hanya diam, duduk sendiri di bangku sudut depan.
Tekadku terbakar, ingin menang, berorientasi masa depan, bahwa dulu kita sama.
“Masa kecil indah, harus berlanjut hingga
kini. Tiada yang boleh tertindas...”
Pelajaran hari itu, ku gigit kuat melalui gerahamku,
meski di antaranya banyak tak ku pahami. Mencoba tenang, di tengah-tengah
teman-teman hebat di sekelilingku, yang harus ku lewati sebagai ujian keras.
Langkah cepat dan tegasku, tiba-tiba dihentikan oleh seorang gadis,
“Bagaimana acara buka bersama angkatan kita Kal?
Sudah di konfirmasikan ?”
“Sudah. Sudah. Sudah...!!” Jawabku cepat, bergegas
pergi tinggalkannya di belakang.
Sekarang tepat pukul 10.15 pagi, langkahku tertuju ke
musholla, di ujung koridor. Tunaikan ibadah sunnah, seperti teman-teman lainnya
dalam musholla itu. Usai itu, ku tadahkan tangan harap pemberian tuhan. Di sisi
kananku, tak sengaja kembali ingatan itu kembali. Kejauhan terlihat beberapa
orang mencangkuli tanah di sisi puskesmas itu. Itu pasti mereka, sahabat
kecilku...
Rabu, 17
Ramadhan 1432 H. Buka Bersama angkatan pun kami langsungkan. Meski siangnya
penuh peluh mempersiapkan acara itu. Putri mempersiapkan makanan di DPN salah
seorang guru, mempersiapkan makanan melalui STJ (sumbangan tiap jiwa) yang kami
kumpulkan. Putra, tentunya menata ruang pertemuan (aula sekolah ) yang kami
pinjam untuk acara itu.
Sekitar 5 menit menjelang bedug.
“Mana bapak ibuk guru, bukankah telah diundang?”
Kesalahan koordinasi, bubar pun kami langsungkan
dengan penuh bahagia tanpa kehadiran undangan, yang sejenak melupakan
“puskesmas” dari otakku. Usai shalat maghrib, acara pun kami lanjutkan. Suara
khasnya mengejutkan,
“Assalamu’alaikuuum..” ternyata dia bapak guru kami.
Bergabung dalam kesederhanaan buka bersama itu. Bergegas sedapat mungkin kami
hidangkan apa yang ada. Sayang, aku lupa! Bapak terkena penyumbatan kolesterol.
Jadi, tiada satupun yang dapat ia santap, kecuali secuil sayur di rantang biru,
Ria Catering itu. kepala tertunduk,
malu. Ku sampaikan maaf yang sedalam-dalamnya kepada bapak, yang ternyata telah
hadir pukul 16.30 sore itu disaat kami sibuk berada di DPN. Sekali lagi, maaf
bapak...
Semua makanan habis. Niatku menghantarkan sedikit
makanan untuk mereka. Ternyata benar-benar terkabulkan dengan 10 potong
semangka + 5 gorengan, di bingkisan ini dan kakiku siap berlari secepat Rossi tembus gelapnya jalan ke
puskesmas. Alhamdulillah!.
*
19 ramadhan.
Gema ramadhan. Rohis sekolah melaksanakan lomba
antar siswa-siswi, mulai tingkat pertama
hingga tingkat akhir. Beragam macam perlombaan. Tapi, dua dalam genggamanku.
Ini uji daya tahan pertamaku, sebelum pulang, dua malam kemudian. Tahfiz dan
azdan, ku targetkan juara. Untuk itu, jadilah aku bahan tontonan seluruh siswa-siswi
siang itu. Agaknya karena pekik parau suaraku melantunkan adzan. Aku tak
peduli. Check sound. Check sound!
*
Berita
sebelumnya, terungkit. Sabtu siang, 20
ramadhan. Terik panas. Buat kerutan taraf siaga lima di dahi. Haus, lapar,
dan capek saat kondisi puasa. Sistem kerja Rodi merebak kembali di kalangan
para siswa. Satu orang berdiri dengan toa
di depan asrama.
“SEMUA SISWA TURUN..!!!.”
Sekejap. Bagai semut. Dengan beragam komentar, semua
kerja mengkondisikan mensa
putra-putri guna acara sore nanti. Tak ubah pasukan roro jongrang, dalam kesetengah
ikhlasan kerja rodi itu. Adzan berkumandang. Semua siap.
16.30 sore. Semua siswa-siswi duduk rapi di tempat.
Sederhana. Bersila di lantai mensa.
Duduk ihklas, bentuk suatu lingkaran kebersamaan memegang gelas stainless
menanti pembagian sirup marjan. Termasuk aku!. Kedatangan para
pembesar-pembesar Riau, tak kunjung munculkan batang hidung pak Saleh Djasit
(mantan gubernur Riau). Jenuh. Leherku mulai penat. Biasa, ku putar ia 180
derajat. Sekali. Dua kali. Belum! Satu setengah, ku lihat gadis berjilbab
putih. Berbusana melayu hijau. Memang! Semua memakai seragam itu. Bedanya, ia
duduk di pintu masuk ke dua mensa.
Aih, cantiknya!. Aku terpana.
Gelombang bunyi itu?. Bukan sesuatu yang asing lagi.
Kompang. Iringi langkah pak Saleh Djasit dengan batang hidungnya yang mancung.
Aku pun terjaga. Alright, acaranya
dimulai. Berbagai performance SLSJ (sistem latihan satu jam) menghebohkan sabtu
sore itu. Teman-temanku. Mereka pelakunya!. Atau pekikan penonton itu, sebuah
dendam. Pelampiasan setelah seharian belajar, staycool menjamin ketenangan kelas. Tapi, agaknya itu keririan ku
saja. Aku ingin jadi pelaku itu!. karena selalu ku dengar cerita-cerita dulu. Bukan sekedar menjadi mereka yang menikmati
(penonton). Tapi, jauh lebih baik menjadi pelaku yang melahirkan kenikmatan
itu. Bukankah itu impianku?
Salah satu moment yang ku suka dari acara itu. Tidak
lain, saat Mr. Saleh Djasit berpidato. Berperawakan lembut. Tetap tegas.
Menghoyak pikiranku. Lagi, ku bayangkan diriku berdiri gagah di podium sakral
itu. Kesan yang kulihat darinya,
sederhana!. Seorang pemimpin besar, yang ku tahu pernah makan di emperan
pinggir Jalan Ahmad Yani dengan kaos oblong putih kaki beralaskan sandal jepang.
Ku rasa, punya tukang parkir depan kantornya. Bijak! Sore itu, semua mata calon
pemimpin masa depan tertuju pada serbuan kalimat pemimpin itu. Mencuri setitik
gairahnya. Mungkin itu maksud kami.
Beberapa saat kemudian. Bedug berbunyi. Diiringi
adzan si gharim masjid. Merdu memang suaranya. Pasukan gelas stainless bergerak
maju. 295 siswa menyerbu di empat penjuru. Untuk satu tujuan, segelas sirup marjan dan semangkuk kolak. Tak
ayal, antrian panjang terjadi. Akibat dari kesalahan strategi. Berebut tak
ubahnya macam anak ayam. “Maunya sebelum bedug. Amunisi ini sudah siaga di
tangan kita...”. Aduh, aku tak sabar. Ku potong antrian sekitar 20 orang di
depanku. Aku tak peduli. Ini sunnah Rasulullah, menyegerakan buka puasa!.
Memang, waktu menjelang buka puasa. Saat terindah
bagi setiap kaum muslimin. Katanya!. Tapi, sudahlah. Kini ku sedang berada
dalam jamaah shalat maghrib. Di markas
besar, Masjid Darul Ihsan. Menghadap Tuhan. Astaghfirullah. Tiga kali ku
ulang. Aku tak kyusu’. Akhirnya sampai ke salam. Tanda berakhirnya shalat.
Tapi, tidak untukku. Satu rakaat lagi. Karena aku makmum masbuk. Serta ratusan
pasukan stainless lagi di belakangku. Kembali keluar komentar, “Ingat. Semua
ini karena kesalahan strategi. Strategi benar. Kita menang...”. Sial. Sampai
salam. 80 % aku tak kyusu’. Astagfirullah. Ampuni
hambamu ya tuhan...
Kembali dari masjid. Ku lihat empat pos itu. Penuh.
Lama aku berdiri. Kini, hampir giliranku. Kiri kanan ku pandang. Si gadis
cantik itu. Duduk manis. Masih di tempat tadi. Jauh ku lihat dari mensa. Di sudut barrack, lima orang
alumni, sepertinya. Tanpa ada satupun yang berusaha menghampiri. Spontan, ku
pasang sendal jepang kembali. Senyum. Karena pak Saleh Djasit dulu juga
memakainya. Kesamaan merk. Cukup membuatku bangga. Di hadapan meraka. Kikuk. “Aih, kok macam ni?”. Aku pun mengajak
mereka. Kakak-kakak alumni untuk IMB (ikut makan bersama). Jempolku
bergerak-gerak ke arah mensa. Sembari
terus mengajak mereka.
Lalu, salah seorang dari mereka garang menanyaiku.
Siapa yang menyuruh?. Dengan pelan tetap sopan ku katakan. Tidak ada yang
menyuruh. Dia tersenyum. Mengangguk-angguk. Lalu terdengar suara pelan. “Bagus
Kal..”. namun, sayang. Kalau aku tak salah, agaknya itu dari mulutku.
Prasmanan. Aku lanjutkan antrian. Tiga orang di
depanku. Ku lihat, sisa 3 ayam goreng. Melemas. Tuhan, aku perlu mukjizat-Mu. Nasi. Sayur. Tempe goreng. Ayam.
Kerupuk. Semangka. Aih, aku tersenyum. Kalau tidak salah. Satu ayam terangkut
ke piringku. Aku bersyukur. Ku lihat,
dalam mensa itu, penuh. Niatku duduk
dekat pintu masuk, gagal terlaksana. Sayang. Sekali setahun, buka bersama. Di
pastikan aku harus menunggu setahun lagi. Makan ayam mukjizat, depan pintu
masuk. Dekat dia, si cantik itu!. Telinga ku berdentang keras. Terpaksa tangan
kiri menutup telingaku. Aku pun bingung. Cara menutup keduanya. Sedih, ini
masalah posisi. Duduk di bawah speaker. Dengan merana!.
*
Malam itu, aku berencana. Mengumpulkan sisa-sisa
makanan untuk ku masukkan ke asoi
hitam ini. Sebentar ku ambil. Ku turut kakak Ria Catering itu di dapur. Namun, kurang mendapat perhatian. Aku
maklum. Ia sibuk. Aku berpikir. Kini, ku ajak seorang teman. Guna melicinkan
rencanaku. Ia Hamka. Sederhana, cerdas, rajin, penuh pengorbanan. Itu kata
dariku untuknya. Aku salut. Berkeliling mencari asoi, untuk tempat makanan itu. Tapi, tak kunjung ku dapati. Hamka
pun demikian. Lagi pula, selama tadi tak ku jumpai semacam makanan. Kecuali
nasi dan semur ayam. Di pos kanan mensa. Perjalanan ringan kami pun,
terhenti di pintu masuk. Kami saling menatap. Lama. Kemudian tersenyum.
“Tunggu apa
lagi...?”
Bergegas. Cekatan tanganku merogoh 10 potong ayam
dari pos itu. beralih tempat ke piring ini. Hamka sigap, siap dengan gunung
nasi di piring. Aku tahu. Banyak mata melihat. Dengan berbagai presepsi. Aku tak
peduli. Ku berlari, untuk kedua kalinya tembus gelap malam jalan ke puskesmas. Dan
untuk kesekian kalinya, aku mencuri makanan.
“Kal. Kaal...
stop.stop. kito jalan ajoo. Tak baik belari macem ni. Tumpah. Sio-sio usaho
kito...” ucap Hamka saat memasuki
pekarangan masjid. Kental dengan logat melayunya.
Langkah kami meraba-raba. Aku dan Hamka tanpa
sandal. Dari jalan itu, remang kuning cahaya lampu dari puskesmas jadi
sasaranku.
“Iqbal! Roby! Wahyu!...” Teriakku menggema di
gelapnya saat itu. Dari belakang, muncul seorang makhluk hitam. Tanpa baju.
Menyapa...
“Ada apa bang, Ikal?” Aku terkejut. Ternyata Roby.
Semuanya telanjang dada. Terkulai letih, pastinya.
Sehabis kerja keras seharian. Memang mereka tak puasa. Kecuali Iqbal, yang ku tanya
kemarin. Meski sebagian, banyak bolongnya. Kumal. Mereka keluar dari sarangnya.
Senang. Terlihat gigi putih mereka yang agak menguning, pelan berkata. Sahabat
terima kasih...
*
Malam itu, kembali dingin. Meski kantuk. Mata berontak
pertahankan haknya. Ku tulis sebuah rangkaian tentang mereka. Dalam hati, pelan
ku baca.
Mungkin belum saat ini,
sinar bulan kan bersinar cerah
Berpanjat kejar ribuan
harapan
Bocah lemah hilang, terbang
tak bersayap
Senantiasa percaya pada
sebuah janji, bahwa balasan akan terjadi
Hingga, tatkala gelegar
terompet kakala memanggil
Sedih, perih, dikuatkan
tiang iman menopang
Kuat kokoh, berharap
hingga mati
Terlihat di pucuk tiang,
tuan tengah diuji, serta hati
Bak seorang napi
pembunuh ganas,
pedihan sayat pisau
melentingkan kekuatan
Hati ini!
Kan beri pertolongan
untukmu,
Sebuah pertemanan
sejati, untuk masa depan
Telah sama-sama
berjanji
Balik tak balik, mimpi
jua akan didapati
Percayalah teman
Janji tak dustai, Jujur
tak surut penantian
*Teriring rasa rindu untuk saudara
sesusu, sahabat kecilku, Iqbal.
Juara Harapan LMCR-2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar