Rabu, 26 Juni 2013

Tradisi dan Budaya_PROSESI MANOGAKKAN TIANG UMA GODANG PERSUKUAN DOMO RITUAL ADAT BUKTI KEBERSAMAAN

PROSESI MANOGAKKAN TIANG UMA GODANG PERSUKUAN DOMO

RITUAL ADAT BUKTI KEBERSAMAAN

 

Jalinan kebersamaan antar anak kemanakan dan ninik mamak terwujud jelas. “kami memiliki 24 empat datuk dibawah datuk ajo malano”, terang imamm datuk rajo malano, penghulu adat suku domo kenegerian air tiris.

Dalam tatanan persukuan, ujarnya, domo dikenegerian air tiris termasuk ke dalam domo di ulak. “mendirikan rumah adat secara bergotong- royong ini merupakan wujud kebersamaan antar anak kemenakan dan ninik mamak,’’ lanjut H Ilyas HU SH Mhum, anggota DPRD kampar yang juga hadir dalam prosesi adat tersebut.

Bangunan Uma Godang persukuan domo itu dibangun atas bantuan pemerintah kabupaten kampar. Sebelumnya sudah dibangun dua rumah adat. Sedangkan untuk rumah adat persukuan lainnya sudah diprogramkan

Sekda Kampar Drs. H Zulher MS yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan di kabupaten kampar terdapat tiga unsur yang saling berkaitan . “kita menyebutnya dengan tali bapiilin tigo atau tigo tungku sajoangan,’’ tuturnya

Tiga unsur tersebut ujarnya adalah umara (unsur pemerintah), ulama (unsur agama), dan ninik mamak (unsur adat). “bila bersatu padu tiga unsur tersebut merupakan kekuatan yang sangat kuat dalam membangun negeri ini,’’ kata Zulher

Tentang semangat kekeluargaan, persaudaraan, dan kebersamaan, menurutnya merupakan ciri dan karakter khas masyarakat kabupaten kampar. “kita mengenal istilah batobo, budaya gotong-royong tanpa pamrih yang tumbuhl, melekat dan berkembang  ditengah masyarakat kabupaten kampar. Selayaknya skap batobo itu terus kita pertahankan sebagai bagian dari bentuk budaya asli daerah kita,” ujarnya

Diantara semangat kebersamaan yang dimaksud zulher tergambar ketika masyarakat secara bergotong-royong  menegakkan tiang-tiang rumah adat persukuan. Seutas tali untuk menegakkan tiang-tiang yang sudah dirangkai, menggambarkan sifat dan sikap kebersamaan antar anak kemenakan, antar ninik mamak dan antar anak kemenakan. “kebersamaan seperti ini yang mestinya kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,”ujar Zulher disela-sela menarik tali ketika menegakkan tiang-tiang rumah adat. ***

Sumebr: Riau Pos. Selasa 19 juli 2011 hal 23

Rewritten by : Radikal Yuda

2 komentar: