Semua Akan
Berbalas
Tawa kakek begitu sumringah ketika menatapku. Lagat dan tatapan
matanya asing. Matanya bagai serigala yang mencari mangsa untuk di kawini.
Matanya bejat. Sebut saja, aku Wahyu. Sejak dilahirkan, telah sembilan tahun
aku hidup di bumi yang gersang ini. bukan karena kemarau. Gersang, hidupku
kering dan merekah-rekah bagai tanah kering karena terlalu haus akan belaian
dan kasih sayang orang-orang terdekatku.
Aku tumbuh sebagai seorang anak laki-laki di tengah-tengah lingkungan
keras yang sangat tidak mementingkan nilai-nilai agama, kesantunan dan
kesopanan, saling menghargai, atau nilai-nilai lainnya yang berkaitan dengan
estetika kehidupan. Di sinilah kehidupan jahiiliyah, walau sejatinya dunia
telah terkembang di zaman modern. Bila kau ingin melihat anak melecehkan orang
tuanya, berangkatlah ke sini. Sungguh, mereka orang-orang jalang, biadab. Di usiaku
yang kesembilan tahun ini, aku jauh lebih dewasa dari perputaran tahun-tahun
hidupku. Hari-hari ku lewati bersama adik perempuan semata wayangku, Resya. Aku
tak ingin ia seperti orang-orang di sini. Sungguh, ia ku cintai. Ibu adalan
pahlawan keluarga. Pembantu di rumah-rumah orang-orang berada. Setiap hari ia
berangkat pukul enam, lalu akan pulang lagi pada pukul enam sore, untuk
menghidupi kami anak-anaknya. Ayah
seorang pejudi. Bukan! ia tidak pantas dipanggil ayah, cukup saja sebagai pria
penanam benih kehidupanku. hanya sebatas itu. karena, ia tidak pernah menafkahi
keluarga, atau sekedar memberikan bimbingan
kepadaku, Resya , dan terlebih pada Ibu. Perjodohan, memaksa Ibu untuk menikah
dengan ayah.
Suatu saat, ku dapatkan kenyataan pahit. Belati tengah menusuk ke
relung sukmaku. Ku saksikan Resya tengah
merangkul kedua lututnya disudut rumah yang kumuh. Resya, adik perempuanku yang
baru berumur lima tahun itu menangis tersedu. Bergegas ku lemparkan tas ke
dalam rumah. Di sampingnya aku duduk mengusap pundaknya. Tapi, adikku hanya diam. Wajah mungilnya terpancar ketakutan. Ia hanya
sendirian di rumah, saat ku tanya keberadaan ayah. Ku ajak Resya untuk
membicarakan apa telah ia alami. Tak biasanya, ia memelukku. Ku cium keningnya.
Aku mulai mendengar bisiknya yang lembut. Seketika itu terasa seseorang tengah
membenturkan sebongkah batu besar di kepalaku. Air mataku meleleh. Tapi, ku
usahakan tetap tenang di depannya. “ Tunggu sebentar ya dik. Kakak akan panggil
Ibu...”
Pipiku basah oleh air mata yang tak kunjung surut. Aku berlari. Berlari sekuat dan sekencang yang bisa ku
lakukan. Teriknya panas, bukanlah penghalang. Tapak kakiku sudah terlalu tebal
untuk merasakan panas dari jalanan berbatu yang ku lalui. Dari telepon seorang
tetangga, ku minta Ibu untuk pulang. bagaimanapun caranya, ku katakan harus
pulang. Tak kuasa ku menahan isak tangis saat mendengar suara Ibu. “Bu,
Resya..”
Dua jam kemudian, sebuah sepeda tua terdengar berdecit. Itu Ibu!, Ku
nanti ia di depan pintu. Kemudian, ku tutup pintu rumah dengan cemas. Ku
kabarkan pada ibu semua yang terjadi pada Resya, dengan sesekali anggukan dan komentar
dari adikku yang hanya banyak diam. Terpancar trauma mendalam akan kejadian
itu.
Di buku catatan matematika-karena tak punya buku yang lain-, ku
tuliskan kisah itu:
Rumbai,
23 Februari 2008
Wahyu sungguh tak
menyangka, kakek begitu keterlaluan. Resya, adik yang sangat Wahyu cintai,
kakek samakan dengan wanita-wanita jalang di luar sana. Segitu kelamkah hati
kakek? Tak ubahnya seperti anjing hitam yang hina. Wahyu benci kakek. Wahyu
benci ayah. Tak ada kata maaf untuk kakek. Wahyu takkan lupa hingga nanti Wahyu
besar. Semuanya akan berbalas...
*
Aku tak dapat berbuat banyak untuk membalas sakit hati atas adikku.
Walau ku katakan aku sudah dewasa, tapi untuk beberapa masalah aku tetap
dianggap masih kecil.
Andai saja, Kami tidak punya beban moral terhadap keluarga ayah.
Maka, pastilah sudah ku tuntut ke pengadilan atas tindak cabul yang dilakukan
lelaku tua bejat, hidung belang, sialan. Orang tua sialan. SIALAAAN!! :’’((
Aku harus lebih sabar untuk cobaan ini. aku sangat mengerti akan
perasaan Ibu. Wanita cantik dan baik hati, yang terpaksa rela dijodohkan dengan
ayahku, yang sialan. Karena hutang budi keluarga yang tidak terhapuskan. Maka,
Resya ketika ku perhatikan benar, sekilas cantik ibu ada padanya. Karena ini,
aku telah berjanj. Akan ku balas semuanya. Aku akan tumbuh menjadi orang besar
yang berhasil, agar Ibu dan Resya juga bisa hidup senang. Tidak perlu bersusah
untuk menjadi pembantu lagi.
“Ibu, adik Doakan Wahyu ya. Wahyu sayang Ibu dan Resya...”
Radikal Yuda Utama
Pekanbaru, 23 Agustus 2012
07.12 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar