Rabu, 26 Juni 2013

Cerita Moral (sumber Nyata)


Semua Akan Berbalas
Tawa kakek begitu sumringah ketika menatapku. Lagat dan tatapan matanya asing. Matanya bagai serigala yang mencari mangsa untuk di kawini. Matanya bejat. Sebut saja, aku Wahyu. Sejak dilahirkan, telah sembilan tahun aku hidup di bumi yang gersang ini. bukan karena kemarau. Gersang, hidupku kering dan merekah-rekah bagai tanah kering karena terlalu haus akan belaian dan kasih sayang orang-orang terdekatku.
Aku tumbuh sebagai seorang anak laki-laki di tengah-tengah lingkungan keras yang sangat tidak mementingkan nilai-nilai agama, kesantunan dan kesopanan, saling menghargai, atau nilai-nilai lainnya yang berkaitan dengan estetika kehidupan. Di sinilah kehidupan jahiiliyah, walau sejatinya dunia telah terkembang di zaman modern. Bila kau ingin melihat anak melecehkan orang tuanya, berangkatlah ke sini. Sungguh, mereka orang-orang jalang, biadab. Di usiaku yang kesembilan tahun ini, aku jauh lebih dewasa dari perputaran tahun-tahun hidupku. Hari-hari ku lewati bersama adik perempuan semata wayangku, Resya. Aku tak ingin ia seperti orang-orang di sini. Sungguh, ia ku cintai. Ibu adalan pahlawan keluarga. Pembantu di rumah-rumah orang-orang berada. Setiap hari ia berangkat pukul enam, lalu akan pulang lagi pada pukul enam sore, untuk menghidupi kami anak-anaknya.  Ayah seorang pejudi. Bukan! ia tidak pantas dipanggil ayah, cukup saja sebagai pria penanam benih kehidupanku. hanya sebatas itu. karena, ia tidak pernah menafkahi keluarga, atau sekedar memberikan  bimbingan kepadaku, Resya , dan terlebih pada Ibu. Perjodohan, memaksa Ibu untuk menikah dengan ayah.
Suatu saat, ku dapatkan kenyataan pahit. Belati tengah menusuk ke relung  sukmaku. Ku saksikan Resya tengah merangkul kedua lututnya disudut rumah yang kumuh. Resya, adik perempuanku yang baru berumur lima tahun itu menangis tersedu. Bergegas ku lemparkan tas ke dalam rumah. Di sampingnya aku duduk mengusap pundaknya.  Tapi, adikku hanya diam.  Wajah mungilnya terpancar ketakutan. Ia hanya sendirian di rumah, saat ku tanya keberadaan ayah. Ku ajak Resya untuk membicarakan apa telah ia alami. Tak biasanya, ia memelukku. Ku cium keningnya. Aku mulai mendengar bisiknya yang lembut. Seketika itu terasa seseorang tengah membenturkan sebongkah batu besar di kepalaku. Air mataku meleleh. Tapi, ku usahakan tetap tenang di depannya. “ Tunggu sebentar ya dik. Kakak akan panggil Ibu...”
Pipiku basah oleh air mata yang tak kunjung surut. Aku berlari.  Berlari sekuat dan sekencang yang bisa ku lakukan. Teriknya panas, bukanlah penghalang. Tapak kakiku sudah terlalu tebal untuk merasakan panas dari jalanan berbatu yang ku lalui. Dari telepon seorang tetangga, ku minta Ibu untuk pulang. bagaimanapun caranya, ku katakan harus pulang. Tak kuasa ku menahan isak tangis saat mendengar suara Ibu. “Bu, Resya..”
Dua jam kemudian, sebuah sepeda tua terdengar berdecit. Itu Ibu!, Ku nanti ia di depan pintu. Kemudian, ku tutup pintu rumah dengan cemas. Ku kabarkan pada ibu semua yang terjadi pada Resya, dengan sesekali anggukan dan komentar dari adikku yang hanya banyak diam. Terpancar trauma mendalam akan kejadian itu.
“ Setega itu kah, kakekmu Yu...?” air mata ibupun turut meleleh mendengar cerita itu
Di buku catatan matematika-karena tak punya buku yang lain-, ku tuliskan kisah itu:
Rumbai, 23 Februari 2008
Wahyu sungguh tak menyangka, kakek begitu keterlaluan. Resya, adik yang sangat Wahyu cintai, kakek samakan dengan wanita-wanita jalang di luar sana. Segitu kelamkah hati kakek? Tak ubahnya seperti anjing hitam yang hina. Wahyu benci kakek. Wahyu benci ayah. Tak ada kata maaf untuk kakek. Wahyu takkan lupa hingga nanti Wahyu besar. Semuanya akan berbalas...
*
Aku tak dapat berbuat banyak untuk membalas sakit hati atas adikku. Walau ku katakan aku sudah dewasa, tapi untuk beberapa masalah aku tetap dianggap masih kecil.
Andai saja, Kami tidak punya beban moral terhadap keluarga ayah. Maka, pastilah sudah ku tuntut ke pengadilan atas tindak cabul yang dilakukan lelaku tua bejat, hidung belang, sialan. Orang tua sialan. SIALAAAN!! :’’((
Aku harus lebih sabar untuk cobaan ini. aku sangat mengerti akan perasaan Ibu. Wanita cantik dan baik hati, yang terpaksa rela dijodohkan dengan ayahku, yang sialan. Karena hutang budi keluarga yang tidak terhapuskan. Maka, Resya ketika ku perhatikan benar, sekilas cantik ibu ada padanya. Karena ini, aku telah berjanj. Akan ku balas semuanya. Aku akan tumbuh menjadi orang besar yang berhasil, agar Ibu dan Resya juga bisa hidup senang. Tidak perlu bersusah untuk menjadi pembantu lagi.
“Ibu, adik Doakan Wahyu ya. Wahyu sayang Ibu dan Resya...”

Radikal Yuda Utama
Pekanbaru, 23 Agustus 2012
07.12 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar