TANAH KUNTO
29 agustus 2008,
menjadi sebuah tanggal yang tak akan pernah terhapus dari catatanku. Di
penghujung agustus itu, seakan menjadi samurai yang siap memenggal kepala
manusia. Bersamaan, menjadi penghujung hidup dari wanita yang sangat ku cintai,
Ibu. Untuk terakhir kalinya, aku akan jalani hidup ini tanpa sentuhan lembutnya
yang membuatku selalu hangat berjalan di bumi kunto darussalam yang gersang dan
tandus. Wilayah garapan perkebuanan PTPN V kelapa sawit yang menjadikan
tanahnya kering kerontang. Kelapa sawit telah menyerap terlalu banyak air dari
bumi itu. masyarakat miskin, ditengah perkebunan utama di Riau, bahkan di
Indonesia. Hanya saudagar-saudagar dan tengkulak-tengkulak pengusaha sawit yang
menikmati hasil dengan Rupiah yang miliaran jumlahnya. Lalu, bagi masyarakat
rendahan hanya menjadi “pesuruh” atau pekerja buruh lepas dibawah kekuasaan
jajahan tengkulak sawit. Bukankah itu tanah kami? Benar. Namun, tiada upaya
yang dapat kami usahakan selain hanya bekerja mendapatkan sesuap nasi. Untuk
sehari saja, itu sudah cukup. Terlalu muluk bagi kami untuk berkontraksi dengan
tengkulak-tengkulak asing yang kuasa atas itu, uanglah dibalik itu semua. suatu
benda berharga yang tidak kami punya. bagi masyarakat rendahan seperti kami, tiada
guna menuntut hak seperti itu. lebih baik diam! Mungkin suatu saat semua akan
berubah.
Sebuat saja aku Ubay.
Sudah hampir tujuh belas tahun rasanya aku berada di bumi ini. Ibu dan bapak
sangat sayang padaku. Namun, itu telah berlalu sejak 10 tahun yang lalu. Saat
itu tidak ada lagi usapan di pundaku saat aku bahagia ataupun sedih. Bapak yang
dulu selalu mengajakku untuk berkeliling tanah kunto darussalam , lalu
bercerita panjang lebar tentang keinginannya untuk membangun ranah itu
dengan penghasilan dari luasnya
perkebunan sawit yang terbentang dari ujung-keujung tanah kuntodarussalam. Ia
selalu bercerita akan mengusahakan agar saham-saham perusahaan itu menjadi
milik orang lokal, agar bisa teraktualisasi untuk pembangunan daerah setempat.
Namun, sayang ketika umurku memasuki delapan tahun, bapak mengalami kecelakaan tragis
yang menyebabkan ia gila. Kepalanya mengalami benturan keras. Bapak yang ku
sayang, kini hanya bisa tertawa-tertawa aneh bila ku ajak berbincang tentang
ceritanya dulu. Hanya harapan yang bisa ku gantungkan pada Allah untuk
kesehatan bapak di suatu saat. Aku rindu cerita bapak. Sungguh rindu yang
dalam.
Sejak itu, kasih
sayang ibu yang dulu ku terima telah berpindah total untuk mengurusi bapak.
Untuk mendapatkan uang, ibu berdagang gorengan di dekat rumah. Dua orang adik
perempuanku masing-masing kini berumur
12 dan 9 tahun. Erni yang besar dan si bungsu
hana. Mereka tak tanggung lepas
dari deraan hidup yang tiada habisnya. Menjadi dewasa jauh dari umur mereka.
Begitulah masa memaksa mereka untuk bisa mandiri lebih cepat, setidaknya untuk
mengurusi diri sendiri.
Sejak tiga tahun
yang lalu, kesibukan membantu keluarga sudah ku tinggalkan. Aku di terima untuk
sekolah di SMA Negeri Plus Propinsi Riau, sebuah sekolah unggul milik
pemerintah propinsi Riau dengan beasiswa penuh hingga aku tamat nanti. Sekolah
itu berada di ibu kota propinsi, Pekanbaru. selama tiga tahun aku tinggal di
asrama yang telah disiapkan hanya bagi seratus orang yang terpilih dari kurang
lebih seribu pendaftar dari seluruh pelosok propinsi Riau. Ketika ku dengar
kelulusanku di sana. Aku sangat bahagia. Namun, tidak lama. Aku teringat ibu,
bapak, dan adik-adikku yang akan ku tinggalkan demi itu. dengan pertimbangan
matang ku putuskan untuk tidak menyiakan-nyiakan kesempatan yang ada. prestasi
sebagai juara umum SMP kuntodarussalam akhirnya membawaku ke pekanbaru. belajar
kerasku tidak sia-sia. Keputusan itu menyebabkan erni harus berganti peran,
menggantikan abang yang sebelumnya
berkeliling kampung untuk menjajakan gorengan ibu, agar bisa mendapatkan uang
yang cukup. Sebenarnya, aku tidak pernah rela melihat ibu dan adik-adikku harus
menanggung beban hidup yang begitu menderita. Di tambah lagi bapak harus
mendapat perhatian khusus, semakin menambah kelam kehidupan keluarga kecilku.
Namun, usaha tak pantang surut. Karena, kesulitan itu semua aku telah berjanji,
dewasa kelak ku akan kembali ke kampung
sebagai orang besar dan sukses.
Selama tiga
tahun ku tinggalkan mereka untuk mimpi besar yang telah tanam. Aku siap dengan
segala konsekuensi untuk meraihnya. Senantiasa ku berdoa, semoga tuhan kan berkenan mengabulkan.
Di sekolah
unggulan itu, aku masih sangat jauh tertinggal dengan rekanku yang lain. Aku menjadi sangat terpacu
dengan adanya kompetisi yang sungguh-sungguh ketat. Terlengah sebentar sama
artinya berlenggang ditinggalkan yang lain. Namun, cukuplah itu di awal
pertemuanku dengan mereka. Hingga tahun kedua, semua mulai berangsung baik.
Peringkat ketiga dan kedua di kelas sebagai bukti nyata. Meski peringkat
pertama kelas masih sulit untuk tercapai, tapi sebuah keyakinan telah membuatku
menjadi sesuatu yang beda. Selalu ku ingat Ibu dan Bapak di rumah juga
adik-adikku yang telah lama ku tinggalkan. Sungguh tak bisa ku maafkan jika
bukan dengan otot bekerja keras, dengan otak bekerja cerdas, dan dengan hati
bekerja ikhlas memaksimal seluruh tenaga untuk mimpi itu. Janjiku telah
tanggung basah, pantang kembali jika tak menjadi orang besar dan sukses. Aku
sangat bersyukur, dengan beasiswa penuh dari pemda Riau, aku tetap bisa
bersekolah tanpa harus meminta Ibu untuk mengirimi sejumlah uang-yang tidak kami
miliki-kepadaku. Meski, tiap hari aku harus menelan ludah ketika rekanku yang
lain bisa jajan di kantin sekolah. Aku selalu berbisik dengan hatiku “Biarkanlah aku sendiri bersama Tuhan yang
maha penyayang...”. setelah itu, secercah embun membasuh hatiku yang goyah.
Teman, runtutan
cobaan ternyata belum kunjung usai mendatangiku. Selama tiga bulan belakangan
ku dapati kabar bahwa ibu terserang penyakit diabetes. Penyakit itu tuntas
membuat hatiku getir. Ku tak bisa menahan tangis setiap kali doa ku panjatkan
untuk kesembuhan ibu. Seorang wanita paruh baya yang teramat tegar. Bagiku ia
tiada gantinya. Bulan pun telah berganti agustus, pertanda sudah bulan ke empat
penyakit ibunda tak kunjung membaik.
Sebuah surat
sampai ketanganku, tulisan depannya ku hafal benar. Tulisan Erni, adik
perempuanku,
“.... Bang Ubay,
gimana kabarnya? semoga abang dalam keadaan baik ya
Abang, sudah
rindu benar rasanya ingin bersua. Abang kapan balik? Tak ingatkah untuk pulang
kerumah ? lebaran kali ini abang juga tak nak tuk balik ke kuntodarussalam?
Bang ubay, erni
takut bang. ibu sepertinya rindu benar dengan abang, sering sebut-sebut nama
abang. Sudah beberapa hari ini, ibu hanya terbaring di kasur. Jelas, diabetes
ibu semakin memburuk.
Bang ubay,
maafkan Erni ya? Uang dari jualan goreng hanya cukup untuk beli beras buat makan
Ibu, bapak, dan hana. Jadi, erni tak bisa bawa Ibu berobat. Eh, tapi kemarin
pernah sekali dibawa ke dokter. Pak cik azlan yang bantu. Tapi, beliau sekarang
dah berangkat balik ke kalimantan. bang ubay mau kan maafkan Erni?
Hana juga rindu
abang. Abang balik ya...?
*
Tepat tanggal 11
agustus, ku pinjam beberapa rupiah dari seorang teman untuk kembali ke kunto
darussalam, tanah sakral yang telah ku tinggalkan sejak lama. Banyak yang
berubah, jalanan telah teraspal hampir keseluruhan. Mulai berdiri banyak
bangunan-bangunan tinggi dan rumah-rumah elit di sekitar perkebunan sawit.
Kendaraan roda empat sudah mulai ramai bolak-balik. hanya saja, yang ku
saksikan rumah kecilku tak ubahnya, seperti sedia pertama kali ku tinggalkan.
Bahkan ia tambah suram. Tidak ada lagi bunga mewarna-warni yang dulu tumbuh
ramai di sekelilingnya. Aku tertegun.
Pertama kalinya
setelah sekian lama, kakiku kembali menginjak lantai rumah yang tiada berkarpet.
Hanya tikar pandan tepat di tengah-tengah rumah. hana yang pertama kali
menyambutku. Erni, katanya masih manjajakan gorengan. Tak berapa lama, di
petang tampak langkah erni olehku. Tak kuasa rasa rindu yang selama ini
membelenggu, terhoyak berguncang perlahan reda menghilang. Tiga beradik kami
saling memeluk erat. Butiran air mata, tak mampu aku menahan. Ia jatuh
berderai. Tuhan maafkanlah aku...
Aku melangkah
pelan menuju bilik Ibu. Ia terkulai lemah. Apa yang terjadi padanya, semakin
membuat hatiku sedih. Ku pandang Erni dan Hana, mereka hanya hening. Raut wajah
mungil hana tampak murung. Namun, tak ku
sangka bapak sudah agak membaik. Meski pikirannya belum sepenuhnya kembali.
tapi, ia tidak lagi tertawa-tertawa aneh. Dan sudah bisa melaksanakan beberapa
perintah. Ku pegang tangan wanita yang paling ku cintai itu. terasa sebuah
sentakan batin, membuat ibu terjaga. Ku rebahkan keningku ke tangannya.
Wajahnya sumringah, meski menahan sakit. Senyum manis Ibu sungguh menawan
tersangkut di wajahnya yang cantik.
“Bu, maafkan Ubay
ya? Masa-masa yang lalu tak sempat balik kerumah..”
Aku memang tak
balik kerumah. Hanya saja, bukan karena tak sempat, tapi untuk sebuah alasan
klasik, tidak punya ongkos. Aku sadar benar, sesungguhnya ibu tahu kebohongan
kecilku. Di usapnya kepalaku yang kalau aku tak salah, sudah terlampau lama
tidak disentuh oleh lembutnya tangan ibu. Rambutku kegirangan. Mereka tersenyum
simpul karenanya. Sungguh indah kala itu.
Hingga lebaran
tiba, ibu tetap terbaring di kasur. Hanya akan bangkit saat ingin ke kamar
mandi atau hal mendesak lainnya. Erni tetap melanjutkan dagangn Ibu. Tidak,
bukan lagi, tapi sekarang dagangan erni, ia sendiri yang membuat dan langsung
menjualnya. Kenyataan hidup keluarga, telah meruntuhkan ketakutanku. Palu godam
melabarak di atas kepalaku. Sebagai anak yang tertua, rasa bersalah benar-benar
tak bisa terhapuskan. Seketika aku keluarkan sisa ongkos pulang yang
notabenenya adalah uang teman yang ku pinjam untuk balik ke kunto darussalam.
Ku serahkan pada Erni untuk membeli beras.
Keadaan ibu
semakin memburuk. Pertengahan agustus, terpaksa ibu harus dilarikan ke rumah
sakit. Opname selama dua hari. Ibu semakin ringkih, sungguh tak tega aku
melihatnya. Setelah itu, ibu memaksa untuk di rawat di rumah saja. Tentu saja
aku menolak, bagaimana tidak keadaan seburuk itu, malah ibu minta pulang.
namun, apalah daya, permintaan ibu tak bisa untuk tidak dilaksanakan. Katanya
ibu sudah tidak apa-apa.
Tuhan, padamu semuanya akan kembali. ku tak sanggup
menjalani ini, jika tak ada kekuatan darimu. Sungguh, ini terlalu berat...
Aku hanya
menahan tangis. Saat ku ketahui tepat 29 agustus sekitar pukul setengah tujuh
malam. Ibu telah kembali kepadaNya. Berpulang ke sisi Allah yang maha kuasa.
Aku mencoba kuat menghadapi ini. bapak
yang ternganga juga menitikkan air mata. Erni dan hasnah, ku rangkul
bersama-sama juga dengan bapak. Tubuhku bergetar hebat. Ibunda tercinta sudah tiada. Tiada lagi wanita yang akan
mengelus kepalaku, erni, dan hana. Berulang-ulang ku ciumi tangan ibu. Ntah ia
mendengar, ku ulang janjiku dengan berbisik. Ku tanamkan janji itu
sedalam-dalamnya. Satu janji. Hanya untuk mewujudkan itu yang kan ku lakukan.
Kelak aku kan kembali sebagai orang besar dan sukses dan membahagiakan
sisa-sisa keluargaku yaitu, bapak, Erni dan Hana.
Kabar duka itu sampai ke kampus SMA Negeri
Plus. Beberapa teman datang melayat. Esok harinya, Tepat setelah Ibu di
kebumikan. Meski tepisah jarak yang tidak dekat. Teman-teman bersama dua orang
guru rela datang dan menginjakkan kaki di rumah yang telah membesarkanku. Satu
pesan ku sampaikan, untuk tidak pernah menceritakan keadaan rumah dan semua
yang mereka lihat. Bukan perasaan malu. Tapi, ketidak relaan bila itu menjadi
alasan untuk berbelas kasih dan beriba-iba terhadapku. Sungguh ku tak ingin itu
terjadi. Mataku terpejam saat menatap langit malam kuntodarussalam yang penuh
kisah.
*
aku terbangun.
Setahun telah berlalu. Kini kudapati diri ini tengah berada di sebuah kelas Universitas Gadjah Mada. Ya, aku lulus sebagai mahasiswa jurusan teknik
kimia salah satu perguruan tinggi terbaik. Semuanya sudah terencana oleh Tuhan
yang kuasa. Karena prestasiku berhasil memecahkan rumus penting kimia organik
yang katanya merupakan bakal terhadap alat kimia industri rumit dari sebuah
perusahaan terkstil di semarang. Aku di biayai hingga tamat oleh perusahaan
tekstil tersebut, dengan perjanjian ikatan dinas dan langsung berkerja wajib
lima tahun. Tak ku sangka, apa yang terjadi hingga saat ini. perusahaan akan
mengangkat aku sebagai manager untuk jabatan awal bekerja di sana.
Biarlah, saat
ini lupakanlah itu. ku tangah berhadapan dengan seorang dosen. Aku harus fokus
terhadap materi yang disampaikannya. Setidaknya saat ini, aku bisa mengirimi
bapak, erni, dan Hana sejumlah rupiah. Semoga cukup untuk makan kebutuhan
sehari-hari. Mimpi besar tengah menanti untuk ku gapai. Tunggulah. Tunggu suatu
saat aku akan kembali ke kunto untuk membangun dan memberikan lapangan
pekerjaan yang lebih layak untuk orang-orang dulu, memiliki perekonomian yang
sejajar denganku.
written by: Radikal Yuda
inspired : Nasrianto
Aku mau Royalti yud....
BalasHapusaku mau ke sana jugaa
Hapussangat menarik kalau dijadikan film :)
BalasHapusceritanya benar-benar memotivasi :)
tekad yang kuat menjadi kekuatan seseorang untuk tetap bercita-cita tinggi :)
BalasHapussemoga sukses teman