Rabu, 26 Juni 2013

Tanah Kunto_sebuah Kisah Nyata


TANAH KUNTO


29 agustus 2008, menjadi sebuah tanggal yang tak akan pernah terhapus dari catatanku. Di penghujung agustus itu, seakan menjadi samurai yang siap memenggal kepala manusia. Bersamaan, menjadi penghujung hidup dari wanita yang sangat ku cintai, Ibu. Untuk terakhir kalinya, aku akan jalani hidup ini tanpa sentuhan lembutnya yang membuatku selalu hangat berjalan di bumi kunto darussalam yang gersang dan tandus. Wilayah garapan perkebuanan PTPN V kelapa sawit yang menjadikan tanahnya kering kerontang. Kelapa sawit telah menyerap terlalu banyak air dari bumi itu. masyarakat miskin, ditengah perkebunan utama di Riau, bahkan di Indonesia. Hanya saudagar-saudagar dan tengkulak-tengkulak pengusaha sawit yang menikmati hasil dengan Rupiah yang miliaran jumlahnya. Lalu, bagi masyarakat rendahan hanya menjadi “pesuruh” atau pekerja buruh lepas dibawah kekuasaan jajahan tengkulak sawit. Bukankah itu tanah kami? Benar. Namun, tiada upaya yang dapat kami usahakan selain hanya bekerja mendapatkan sesuap nasi. Untuk sehari saja, itu sudah cukup. Terlalu muluk bagi kami untuk berkontraksi dengan tengkulak-tengkulak asing yang kuasa atas itu, uanglah dibalik itu semua. suatu benda berharga yang tidak kami punya.  bagi masyarakat rendahan seperti kami, tiada guna menuntut hak seperti itu. lebih baik diam! Mungkin suatu saat semua akan berubah.
Sebuat saja aku Ubay. Sudah hampir tujuh belas tahun rasanya aku berada di bumi ini. Ibu dan bapak sangat sayang padaku. Namun, itu telah berlalu sejak 10 tahun yang lalu. Saat itu tidak ada lagi usapan di pundaku saat aku bahagia ataupun sedih. Bapak yang dulu selalu mengajakku untuk berkeliling tanah kunto darussalam , lalu bercerita panjang lebar tentang keinginannya untuk membangun ranah itu dengan  penghasilan dari luasnya perkebunan sawit yang terbentang dari ujung-keujung tanah kuntodarussalam. Ia selalu bercerita akan mengusahakan agar saham-saham perusahaan itu menjadi milik orang lokal, agar bisa teraktualisasi untuk pembangunan daerah setempat. Namun, sayang ketika umurku memasuki  delapan tahun, bapak mengalami kecelakaan tragis yang menyebabkan ia gila. Kepalanya mengalami benturan keras. Bapak yang ku sayang, kini hanya bisa tertawa-tertawa aneh bila ku ajak berbincang tentang ceritanya dulu. Hanya harapan yang bisa ku gantungkan pada Allah untuk kesehatan bapak di suatu saat. Aku rindu cerita bapak. Sungguh rindu yang dalam.
Sejak itu, kasih sayang ibu yang dulu ku terima telah berpindah total untuk mengurusi bapak. Untuk mendapatkan uang, ibu berdagang gorengan di dekat rumah. Dua orang adik perempuanku masing-masing  kini berumur 12 dan 9 tahun. Erni yang besar dan si bungsu  hana.  Mereka tak tanggung lepas dari deraan hidup yang tiada habisnya. Menjadi dewasa jauh dari umur mereka. Begitulah masa memaksa mereka untuk bisa mandiri lebih cepat, setidaknya untuk mengurusi diri sendiri.
Sejak tiga tahun yang lalu, kesibukan membantu keluarga sudah ku tinggalkan. Aku di terima untuk sekolah di SMA Negeri Plus Propinsi Riau, sebuah sekolah unggul milik pemerintah propinsi Riau dengan beasiswa penuh hingga aku tamat nanti. Sekolah itu berada di ibu kota propinsi, Pekanbaru. selama tiga tahun aku tinggal di asrama yang telah disiapkan hanya bagi seratus orang yang terpilih dari kurang lebih seribu pendaftar dari seluruh pelosok propinsi Riau. Ketika ku dengar kelulusanku di sana. Aku sangat bahagia. Namun, tidak lama. Aku teringat ibu, bapak, dan adik-adikku yang akan ku tinggalkan demi itu. dengan pertimbangan matang ku putuskan untuk tidak menyiakan-nyiakan kesempatan yang ada. prestasi sebagai juara umum SMP kuntodarussalam akhirnya membawaku ke pekanbaru. belajar kerasku tidak sia-sia. Keputusan itu menyebabkan erni harus berganti peran, menggantikan abang yang  sebelumnya berkeliling kampung untuk menjajakan gorengan ibu, agar bisa mendapatkan uang yang cukup. Sebenarnya, aku tidak pernah rela melihat ibu dan adik-adikku harus menanggung beban hidup yang begitu menderita. Di tambah lagi bapak harus mendapat perhatian khusus, semakin menambah kelam kehidupan keluarga kecilku. Namun, usaha tak pantang surut. Karena, kesulitan itu semua aku telah berjanji, dewasa kelak ku akan kembali ke kampung  sebagai orang besar dan sukses.
Selama tiga tahun ku tinggalkan mereka untuk mimpi besar yang telah tanam. Aku siap dengan segala konsekuensi untuk meraihnya. Senantiasa ku berdoa,  semoga tuhan kan berkenan mengabulkan.
Di sekolah unggulan itu, aku masih sangat jauh tertinggal dengan  rekanku yang lain. Aku menjadi sangat terpacu dengan adanya kompetisi yang sungguh-sungguh ketat. Terlengah sebentar sama artinya berlenggang ditinggalkan yang lain. Namun, cukuplah itu di awal pertemuanku dengan mereka. Hingga tahun kedua, semua mulai berangsung baik. Peringkat ketiga dan kedua di kelas sebagai bukti nyata. Meski peringkat pertama kelas masih sulit untuk tercapai, tapi sebuah keyakinan telah membuatku menjadi sesuatu yang beda. Selalu ku ingat Ibu dan Bapak di rumah juga adik-adikku yang telah lama ku tinggalkan. Sungguh tak bisa ku maafkan jika bukan dengan otot bekerja keras, dengan otak bekerja cerdas, dan dengan hati bekerja ikhlas memaksimal seluruh tenaga untuk mimpi itu. Janjiku telah tanggung basah, pantang kembali jika tak menjadi orang besar dan sukses. Aku sangat bersyukur, dengan beasiswa penuh dari pemda Riau, aku tetap bisa bersekolah tanpa harus meminta Ibu untuk mengirimi sejumlah uang-yang tidak kami miliki-kepadaku. Meski, tiap hari aku harus menelan ludah ketika rekanku yang lain bisa jajan di kantin sekolah. Aku selalu berbisik dengan hatiku “Biarkanlah aku sendiri bersama Tuhan yang maha penyayang...”. setelah itu, secercah embun  membasuh hatiku yang goyah.
Teman, runtutan cobaan ternyata belum kunjung usai mendatangiku. Selama tiga bulan belakangan ku dapati kabar bahwa ibu terserang penyakit diabetes. Penyakit itu tuntas membuat hatiku getir. Ku tak bisa menahan tangis setiap kali doa ku panjatkan untuk kesembuhan ibu. Seorang wanita paruh baya yang teramat tegar. Bagiku ia tiada gantinya. Bulan pun telah berganti agustus, pertanda sudah bulan ke empat penyakit ibunda tak kunjung membaik.
Sebuah surat sampai ketanganku, tulisan depannya ku hafal benar. Tulisan Erni, adik perempuanku,
“.... Bang Ubay, gimana kabarnya? semoga abang dalam keadaan baik ya
Abang, sudah rindu benar rasanya ingin bersua. Abang kapan balik? Tak ingatkah untuk pulang kerumah ? lebaran kali ini abang juga tak nak tuk balik ke kuntodarussalam?
Bang ubay, erni takut bang. ibu sepertinya rindu benar dengan abang, sering sebut-sebut nama abang. Sudah beberapa hari ini, ibu hanya terbaring di kasur. Jelas, diabetes ibu semakin memburuk.
Bang ubay, maafkan Erni ya? Uang dari jualan goreng hanya cukup untuk beli beras buat makan Ibu, bapak, dan hana. Jadi, erni tak bisa bawa Ibu berobat. Eh, tapi kemarin pernah sekali dibawa ke dokter. Pak cik azlan yang bantu. Tapi, beliau sekarang dah berangkat balik ke kalimantan. bang ubay mau kan maafkan Erni?
Hana juga rindu abang. Abang balik ya...?

*
Tepat tanggal 11 agustus, ku pinjam beberapa rupiah dari seorang teman untuk kembali ke kunto darussalam, tanah sakral yang telah ku tinggalkan sejak lama. Banyak yang berubah, jalanan telah teraspal hampir keseluruhan. Mulai berdiri banyak bangunan-bangunan tinggi dan rumah-rumah elit di sekitar perkebunan sawit. Kendaraan roda empat sudah mulai ramai bolak-balik. hanya saja, yang ku saksikan rumah kecilku tak ubahnya, seperti sedia pertama kali ku tinggalkan. Bahkan ia tambah suram. Tidak ada lagi bunga mewarna-warni yang dulu tumbuh ramai di sekelilingnya. Aku tertegun.
Pertama kalinya setelah sekian lama, kakiku kembali menginjak lantai rumah yang tiada berkarpet. Hanya tikar pandan tepat di tengah-tengah rumah. hana yang pertama kali menyambutku. Erni, katanya masih manjajakan gorengan. Tak berapa lama, di petang tampak langkah erni olehku. Tak kuasa rasa rindu yang selama ini membelenggu, terhoyak berguncang perlahan reda menghilang. Tiga beradik kami saling memeluk erat. Butiran air mata, tak mampu aku menahan. Ia jatuh berderai. Tuhan maafkanlah aku...
Aku melangkah pelan menuju bilik Ibu. Ia terkulai lemah. Apa yang terjadi padanya, semakin membuat hatiku sedih. Ku pandang Erni dan Hana, mereka hanya hening. Raut wajah mungil hana tampak murung.  Namun, tak ku sangka bapak sudah agak membaik. Meski pikirannya belum sepenuhnya kembali. tapi, ia tidak lagi tertawa-tertawa aneh. Dan sudah bisa melaksanakan beberapa perintah. Ku pegang tangan wanita yang paling ku cintai itu. terasa sebuah sentakan batin, membuat ibu terjaga. Ku rebahkan keningku ke tangannya. Wajahnya sumringah, meski menahan sakit. Senyum manis Ibu sungguh menawan tersangkut di wajahnya yang cantik.
“Bu, maafkan Ubay ya? Masa-masa yang lalu tak sempat balik kerumah..”
Aku memang tak balik kerumah. Hanya saja, bukan karena tak sempat, tapi untuk sebuah alasan klasik, tidak punya ongkos. Aku sadar benar, sesungguhnya ibu tahu kebohongan kecilku. Di usapnya kepalaku yang kalau aku tak salah, sudah terlampau lama tidak disentuh oleh lembutnya tangan ibu. Rambutku kegirangan. Mereka tersenyum simpul karenanya. Sungguh indah kala itu.
Hingga lebaran tiba, ibu tetap terbaring di kasur. Hanya akan bangkit saat ingin ke kamar mandi atau hal mendesak lainnya. Erni tetap melanjutkan dagangn Ibu. Tidak, bukan lagi, tapi sekarang dagangan erni, ia sendiri yang membuat dan langsung menjualnya. Kenyataan hidup keluarga, telah meruntuhkan ketakutanku. Palu godam melabarak di atas kepalaku. Sebagai anak yang tertua, rasa bersalah benar-benar tak bisa terhapuskan. Seketika aku keluarkan sisa ongkos pulang yang notabenenya adalah uang teman yang ku pinjam untuk balik ke kunto darussalam. Ku serahkan pada Erni untuk membeli beras.
Keadaan ibu semakin memburuk. Pertengahan agustus, terpaksa ibu harus dilarikan ke rumah sakit. Opname selama dua hari. Ibu semakin ringkih, sungguh tak tega aku melihatnya. Setelah itu, ibu memaksa untuk di rawat di rumah saja. Tentu saja aku menolak, bagaimana tidak keadaan seburuk itu, malah ibu minta pulang. namun, apalah daya, permintaan ibu tak bisa untuk tidak dilaksanakan. Katanya ibu sudah tidak apa-apa.
Tuhan, padamu semuanya akan kembali. ku tak sanggup menjalani ini, jika tak ada kekuatan darimu. Sungguh, ini terlalu berat...
Aku hanya menahan tangis. Saat ku ketahui tepat 29 agustus sekitar pukul setengah tujuh malam. Ibu telah kembali kepadaNya. Berpulang ke sisi Allah yang maha kuasa. Aku mencoba kuat menghadapi ini. bapak  yang ternganga juga menitikkan air mata. Erni dan hasnah, ku rangkul bersama-sama juga dengan bapak. Tubuhku bergetar hebat. Ibunda tercinta  sudah tiada. Tiada lagi wanita yang akan mengelus kepalaku, erni, dan hana. Berulang-ulang ku ciumi tangan ibu. Ntah ia mendengar, ku ulang janjiku dengan berbisik. Ku tanamkan janji itu sedalam-dalamnya. Satu janji. Hanya untuk mewujudkan itu yang kan ku lakukan. Kelak aku kan kembali sebagai orang besar dan sukses dan membahagiakan sisa-sisa keluargaku yaitu, bapak, Erni dan Hana.
 Kabar duka itu sampai ke kampus SMA Negeri Plus. Beberapa teman datang melayat. Esok harinya, Tepat setelah Ibu di kebumikan. Meski tepisah jarak yang tidak dekat. Teman-teman bersama dua orang guru rela datang dan menginjakkan kaki di rumah yang telah membesarkanku. Satu pesan ku sampaikan, untuk tidak pernah menceritakan keadaan rumah dan semua yang mereka lihat. Bukan perasaan malu. Tapi, ketidak relaan bila itu menjadi alasan untuk berbelas kasih dan beriba-iba terhadapku. Sungguh ku tak ingin itu terjadi. Mataku terpejam saat menatap langit malam kuntodarussalam yang penuh kisah.
*
aku terbangun. Setahun telah berlalu. Kini kudapati diri ini tengah berada di sebuah kelas Universitas Gadjah Mada. Ya, aku lulus sebagai mahasiswa jurusan teknik kimia salah satu perguruan tinggi terbaik. Semuanya sudah terencana oleh Tuhan yang kuasa. Karena prestasiku berhasil memecahkan rumus penting kimia organik yang katanya merupakan bakal terhadap alat kimia industri rumit dari sebuah perusahaan terkstil di semarang. Aku di biayai hingga tamat oleh perusahaan tekstil tersebut, dengan perjanjian ikatan dinas dan langsung berkerja wajib lima tahun. Tak ku sangka, apa yang terjadi hingga saat ini. perusahaan akan mengangkat aku sebagai manager untuk jabatan awal bekerja di sana.
Biarlah, saat ini lupakanlah itu. ku tangah berhadapan dengan seorang dosen. Aku harus fokus terhadap materi yang disampaikannya. Setidaknya saat ini, aku bisa mengirimi bapak, erni, dan Hana sejumlah rupiah. Semoga cukup untuk makan kebutuhan sehari-hari. Mimpi besar tengah menanti untuk ku gapai. Tunggulah. Tunggu suatu saat aku akan kembali ke kunto untuk membangun dan memberikan lapangan pekerjaan yang lebih layak untuk orang-orang dulu, memiliki perekonomian yang sejajar denganku.

written by: Radikal Yuda
inspired : Nasrianto

4 komentar:

  1. Aku mau Royalti yud....

    BalasHapus
  2. sangat menarik kalau dijadikan film :)
    ceritanya benar-benar memotivasi :)

    BalasHapus
  3. tekad yang kuat menjadi kekuatan seseorang untuk tetap bercita-cita tinggi :)
    semoga sukses teman

    BalasHapus